Maag, seperti itulah biasanya orang awam menyebutkannya. Siapa tidak tahu dengan penyakit yang satu ini. Dalam sebuah data ditemukan bahwa setidaknya 30% orang dewasa pernah mengalami penyakit ini. Apa sebenarnya maag itu? Kenapa begitu banyak orang mengeluhkan keadaan seperti ini? Kita akan mencoba membahasnya kali ini.
Maag, yang dalam bahasa jawa disebut dengan dyspepsia, adalah suatu sindrom (kumpulan gejala) berupa gangguan rasa nyaman yang ada di perut terutama bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Ketidaknyamanan tersebut dapat berupa adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut. Dyspepsia umumnya berasal dari lambung, namun sebenarnya tidak hanya terbatas pada lambung saja. Sindrom ini dapat pula berasal dari liver, kandung empedu, usus (pars duodenalis), serta pankreas.
Dyspepsia dapat dibagi menjadi dua tipe:
1. Dyspepsia organik
bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya. Sindroma dyspepsia organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2. Dyspepsia nonorganik atau dyspepsia fungsional, atau dyspesia nonulkus (DNU)
bila tidak jelas penyebabnya. Dyspepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluran pencernaan).
Sebuah penelitian yang dilakukan seorang dari Rusia bernama Reshetnikov pada tahun 2007 tentang gejala gastrointestinal menyatakan bahwa faktor diet pada sindrom dyspepsia berkaitan dengan ketidakteraturan pada pola makan dan jeda antara jadwal makan yang lama. Artinya pola makan yang tidak baik dapat memicu munculnya gejala ini. Selain karena pengaruh waktu untuk makan yang tidak teratur karena kesibukan dalam bekerja, keinginan untuk mendapat bentuk tubuh yang ‘ideal’ sering kali menjadi alasan utama terjadinya keluhan. Biasanya para wanita yang mengalami keadaan seperti ini. Mereka berdalih ingin memperoleh bentuk tubuh yang baik sehingga mengurangi bahkan tidak makan sama sekali. Meski tidak sepenuhnya salah, pendapat ini sebaiknya diluruskan. Untuk lebih lengkapnya tentang diet yang baik untuk memperoleh bentuk tubuh ideal, akan kita bahas dalam topik yang lain, khusus membahas masalah ini.
Kembali pada dyspepsia, sejumlah makanan dapat memicu munculnya gejala. Terutama makanan yang merangsang keluarnya asam lambung berlebih, antara lain makanan yang bersifat asam, pedas, serta minuman-minuman berkarbonasi dan alkohol. Bagi yang pernah mengalami keluhan seperti dyspepsia, sebaiknya menghindari makanan dan minuman seperti yang disebutkan tadi. Selain dapat menyebabkan kekambuhan gejala yang sama, keluhan yang terjadi secara berulang akan semakin memperburuk keadaan lambung anda, yang juga akan semakin sulit dalam penyembuhan.
Obat-obatan anti nyeri sering kali menjadi tersangka utama terjadinya tukak (luka) pada lambung. Bagi anda yang sering mengkonsumsi obat anti nyeri, harap waspada dan selalu berhati-hati. Jangan pernah mengkonsumsi obat anti nyeri tanpa pengawasan dari dokter. Bukan supaya dokter jadi laku, tapi karena banyak efek samping dari obat-obatan terutama obat anti nyeri yang tidak disadari oleh kebanyakan orang. Dan apabila penyakit ini sudah menjadi kronis, maka penyembuhannya pun sangat sulit. Resiko tinggi pun akan dihadapi, bahkan hingga resiko menjadi kematian.
Untuk itu, jangan pernah menyepelekan kondisi ringan seperti dyspepsia ini. Karena jika semakin parah dan terus berlanjut akan sulit diobati. Saran dari saya, atur poloa makan yang teratur, baik jumlah maupun waktunya. Selain itu, hindari makan makanan yang bersifat meningkatkan asam lambung, boleh saja makan pedas dan semacamnya, namun jangan berlebihan. Hindari pula menggunakan obat-obatan anti nyeri tanpa pengawasan, mengingat efek samping yang tidak dapat dikendalikan. Dan terakhir, hubungi dokter anda jika sering mengalami kondisi seperti di atas, agar sakit anda tidak berlanjut.
Selamat menjalankan aktivitas anda dan Tetap Sehat Setiap Saat.
dr. Risang Galih Suprastyono
- member of Super Dokter
dr. Risang Galih Suprastyono
- member of Super Dokter









0 komentar:
Post a Comment